Oktober 2007 kemarin, aku beserta keluarga liburan bersama ke Bromo. Wah benernya tuh acara dadakan karena rencana hanya akan ke rumah keluarga di Kediri. Tetapi berkat kenekatan para ortu dan keingin tahuan (soalnya juga sebagian fam ku ngga pernah kesana), akhirnya meluncurlah kami ke Bromo.
Sesampai di sana, baru kukenali tempat yang dinginnya kayak Batu-Malang, bahkan lebih dingin. Waktu itu sore-sore aku baru datang, bayangkan aja kalo pagi nanti bakal jadi gimana yah dinginnya. Disana aku hampir saja ngga dapet penginapan sangking penuhnya, kalo ngga salah sih nama penginapannya “Lava view” (maap klo salah, kelamaan soalnya..). Ngga kaget tempat ini yang paling ramai karena pemandangan gunung Bromo bisa dilihat langsung di depan penginapan. Sebenarnya ada sih penginapan yang lebih bagus (dalam arti fasilitas dan kebersihan), di “Grand Bromo”, hanya saja tempatnya jauh dari gunung Bromo, membutuhkan waktu dalam hitungan jam untuk mencapai ke sana. Akhirnya kami putusin tuk tetep cari penginapan lain yang dibawah Lava view. Akhirnya kami dapat kamar meskipun bisa dibilang “kamar darurat” karena kamarnya ngga ada no kamarnya, tempatnya juga agak kecil. Yah, daripada pulang dengan tangan kosong, sungguh disayangkan kalau ngga menikmati indahnya Gunung Bromo. Akhirnya kami pun menginap dan berencana untuk bangun 03.00 subuh untuk berangkat melihat sunrise.

Pemandangan Bromo
Malam itu bener-bener dingin luar biasa. Di sana diharuskan memakai pakaian penahan dingin karena suhu nya ngga kalah sama kulkas dirumah, tapi ngga sampe freezer nya kok. Sudah sekeluarga ini datangnya dadakan, ngga bawa persiapan apa-apa, untung aja bawa jaket, masih mending. Malam itu benar-benar dilewati bersama angin semriwing bersuhu hampir minus, ngga karuan dinginnya. Akhirnya jarum jam nampak menunjukkan PK 03.00, kami dengan kondisi masih ngantuk dan kedinginan setengah mati, berangkat menggunakan Jeep yang disediakan oleh orang-orang yang ada disana.

Menunggu penumpang
Pada saat perjalanan, ini yang benar-benar membuatku ngga bakal lupa. Bayangin aja jalannya sepi dan tak ada penerangan satupun, dan km harus melewati jalan-jalan itu. Haduhh, mengerikan…>.< Kemudian si supir menyetir tanpa menyalakan lampu, cmn pake lampu darurat yang ngga bisa nyala lama-lama. Padahal jalan yang dilewati penuh dengan jurang dan jalan sempit. Saya pun bertanya-tanya, ngapain nih orang kok ngga nyalain lampu, bahaya atuh…>.< Ada dua pikiran yang saya dapat : 1. Si supir tahu ini tempat agak angker jadinya ngga bisa nyalain lampu sering-sering. 2. Si supir gaya-gaya an kalau dia sudah biasa nyetir, jadi pakai lampu pun ngga masalah. Haduh dua pikiran ini kayaknya ngga masuk akal, akhirnya saya pun bicara dengan nada agak mengomel, hehe.. maklum saya merasa nyawa saya agak terancam melihat kondisi seperti itu. Ternyata baru kusadari kalau lampu Jeep yang saya pakai ini lampunya mati! Aduh, komplit sudah perjalanan saya, hampir ngga dapet penginapan, ngga bawa baju dingin lengkap, kebetulan sekali dapet Jeep yang keren, tanpa lampu dan supirnya yang keren karena pakai Night Vision hingga akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Fyuh…-.-” Selamat-selamatt… =p

Sisi lain dari Bromo
Sesampainya, kami sekeluarga beranjak ke tempat dimana kita bisa meilhat sunrise dengan jelas, wah…tempatnya ramai sekali, sudah banyak orang yang berkumpul disana untuk menyaksikan peristiwa yang bakal terjadi sekali…dalam sehari… Tempat itu sudah dipadati dan susah untuk mendapatkan view yang jelas dari kepala-kepala orang. Akhirnya, dengan jurus jitu menguruskan badan dan menyelinap, akhirnya aku dapet juga tempat di depan…^.^ View nya sungguh indah dan luar biasa, perlahan-lahan sang surya menampakkan diri walau butuh waktu yang cukup lama. Semua orangpun berceloteh dan bersorak kecil mengikuti mumculnya sang surya. Hingga akhirnya semua nya pun bersorak saat sang surya menampakkan diri seutuhnya, ramainya kayak melihat artis yang muncul secara tiba-tiba di depan mata.

Situasi menjelang sang “surya” menampakkan diri
Setelah dari tempat ini, kami pun beranjak ke Gunung Bromo sebelum tempat itu penuh dari keramaian. Situasi di tempat itu sungguh lapang dan berdebu. Sampai kamera saya kemasukkan debu. Yah tak apalah hitung-hitung oleh-oleh dari Bromo..:p Di sana banyak sekali orang yang menyewakan kendaraan tanpa bahan bakar minyak untuk mencapai ke atas gunung, yaitu KUDA. Karena perjalanan yang cukup jaduh akhirnya kampun menggunakan kendaraan hemat BBM itu untuk naik ke atas.

Ready to fly
Pemandangan di atas sana cukup bagus dan menarik, hanya saja cuaca yang cukup menyengat sehingga ngga bisa berlama-lama. Sekilas adalah perjalanan ku di Bromo. Pada umumnya orang kalau sudah pernah berkunjung ke satu tempat dan terpukau ingin kembali lagi, kali ini saya ngga hanya terpukau dengan dinginnya, Jeep tanpa lampu, supir dengan “NIght Vision”, tapi pemandangan yang cukup mengganti ketegangan selama perjalanan saya di Bromo…^.^
http://www.vlitephotography.com
Posted in Photography and Art
Tags: Bromo, Indonesia, journey, photo, trip